Pasker_ZhedeNK_125

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

Pendidikan yang Ideal Bagi Indonesia

Pendidikan yang Ideal Bagi Indonesia

Hasil gambar untuk pendidikan yang ideal
Di era teknologi seperti ini, pendidikan memang sangat diperlukan bgi setiap orang. Pendidikan saat ini kerap menjadi tolak ukur bagi kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Pendapat bahwa orang yang selalu memiliki IPK hampir empat, lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan yang mempunyai gelar tinggi hingga doktor bahkan profesor, dipercayai oleh sebagian besar orang akan menjadi orang yang sukses kelak dan berpenghasilan besar tentunya. Padahal pada kenyataannya tidak semuanya seperti itu. Banyak orang yang sukses diusia produktifnya padahal ketika masa sekolah ia termasuk anak yang bisa dibilang tidak pintar bahkan mungkin termasuk peringkat sepuluh terburuk satu sekolahnya. Mereka dapat menjadi lebih sukses karena dari kecerdasannya dalam berpikir kritis dan futuristik, sehingga mereka pandai untuk berbisnis dan mengelola uang mereka. Hal ini juga tidak terlepas dari faktor yang disebut keberuntungan.
Pendidikan adalah proses pembelajaran, proses dimana kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal  baru yang sebelumnya tidak kita ketahui, Proses dimana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakal sehat juga rasional. Dengan mendapat pendidikan yang layak bagi seusianya, diharapkan anak akan dapat menjadi pribadi yang berperilaku yang baik, cepat tanggap, mudah bergaul dan tentunya bertambah pengetahuannya, baik yang umum maupun yang khusus seperti berhitung dan berbahasa. Materi yang diberikan dalam proses pembelajaran ada bermacam-macam seperti  dalam hal berhitung, berbahasa, berperilaku, beragama, berekspresi, seni, berakhlak dan berperilaku. Proses pembelajaran ini tidak hanya dimulai ketika kita taman kanak-kanak, tapi dimulai ketika kita masih didalam perut ibu. Saat kita masih didalam kandungan, ibu sudah mengajarkan kita tentang kasih sayang, kasih sayang dari seorang ibu yang selalu menjaga anak dalam kandungannya agar kelak lahir dengan sehat dan selamat.
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Pendidikan adalah salah satu cara manusia agar dapat melanjutkan kehidupan. Dengan pendidikan, ilmu yang kita miliki akan semakin bertambah, wawasan yang kita miliki akan semakin luas, sehingga kita dapat berpikir secara lebih futuristik dan rasional. Dengan ilmu seseorang dapat berbuat banyak, dengan ilmu juga kita dapat beramal karena dapat berguna untuk orang lain. Sebagai contoh, jika kita memiliki ilmu yang lebih dari teman kita, saat ada yang mengalami kesulitan dalm pelajaran disekolah, dan kita dapat membantunya kita akan mendapat pahala karena kita dapat menolong teman yang kesulitan. Contoh lainnya, jika suatu saat kita berhenti atau sedang tidak bekerja, jika kita memiliki ilmu khusus yang lebih, kita dapat mencari kerja sampingan sementara yaitu sebagai pengajar les atau bimbingan belajar bagi anak yang memerlukannya. Banyak hal yang dapat kita lakukan dan kita dapatkan, jika kita menjadi orang yang berilmu .
Agar pendidikan yang diterima oleh peserta didik secara maksimal, haruslah dibuat sistem pendidikan yang ideal. Yang dimaksud ideal adalah yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur, sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima, dan pendidikan yang diberikan secara bertingkat dan bertahap. Pendidikan sesuai umur maksudnya adalah proses belajar dimana materi yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan umurnya. Misalnya anak SMP tidak cocok lagi jika diajarkan penjumlahan bilangan puluhan bahkan satuan, karena seharusnya mereka sudah paham karena sudah diajarkan sejak taman kanak-kanak. Sebaliknya anak SD juga tidak cocok jika diajarkan pelajaran Biologi, yang membahas tentang proses reproduksi pada manusia. Karena mereka dianggap belum mengerti tentang masalah itu, dan berbahaya jika disalahgunakan. Hal ini juga berhubungan dengan kriteria kedua yaitu sesuai dengan kapasitas kemampuan sang peserta didik untuk menerima pelajaran tersebut. Jika pendidikan yang diberikan melebihi dari kemampuan menerima dikhawatirkan peserta didik akan stress, sebaliknya jika terlalu mudah akan membuat mereka menjadi bosan. Oleh karena itu harus tepat. Kriteria tepat ketiga adalah proses pembelajaran seharusnya diberikan secara bertahap dan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh adalah siswa-siswi taman kanak-kanak mulai diajarkan matematika yaitu mengenal bilangan satuan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan satuan. Ketika di SD kelas 1, pelajaran yang mereka terima mulai naik tahapannya menjadi penjumlahan bilangan puluhan, lalu ratusan, ribuan dan seterusnya. Meningkat lagi ke perkalian dan pembagian. Namun saat SMP, matematika yang dipelajari tidak lagi sederhana yaitu mulai konsep al-jabar, phytagoras dan lain-lain. Sehingga peserta didik dapat menerimanya dengan baik karena dimulai dari tahap yang mudah hingga yang paling sulit.
Belajar tidak hanya disekolah, kita belajar dan mendapat pendidikan dimana saja. Ada pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan wajib yang terstruktur dan terorganisir, seperti sekolah. Di Indonesia pemerintah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun untuk warganya, hal ini berguna untuk menymaratakan pendidikan masyarakat Indonesia agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang pendidikannya. Selain formal, ada juga pendidikan informal, seperti les-les tambahan diluar jam sekolah, les musik, lukis, teater, olahraga dan kesenian lainnya. Pendidikan ini bersifat tidak wajib, hanya sebagai tambahan saja, biasanya untuk mengasah kemampuan yang berhubungan dengan hobi. Selain les-les tambahan kegiatan berorganisasi juga merupakan pendidikan yang bersifat informal, kita belajar bagaimana cara menghargai orang lain, berkomunikasi didepan umum dan lainnya. Keluarga juga berperan penting dalam pendidikan informal ini, karena dirumahpun kita juga tetap belajar, belajar menghomati orang lain, mengalah dan saling menyayangi antar anggota keluarga. Jadi pendidikan itu sebenarnya bersifat luas, dapat diperoleh dimana saja.
Pemerintah Indonesia bercita-cita untuk menjadikan pendidikan di Indonesia ini mudah dijangkau oleh masyarakat. Karena mereka menilai pendidikan itu sangat penting, terutama di era globalisasi ini, dimana teknologi semakin canggih dan semakin mudah untuk melakukan apapun. Menurut pendapat saya hal-hal yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik dan cukup mendukung dengan memberlakukan ’program wajib belajar 9 tahun’ dan ’program sekolah gratis’ bagi setiap warganya maupun program BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Hal ini dinilai berguna untuk menyamaratakan kemampuan seluruh masyarakatnya, agar Indonesia menjadi negara yang maju, tidak hanya berkembang dan jangan sampai mengalami kemunduran. Juga agar Negara Indonesia tidak mengalami ketertinggalan dari bangsa-bangsa lainnya.
Indonesia adalah negara yang tingkat kepadatan penduduknya mendapat peringkat sepuluh besar didunia ini. Masalah pendidikan di negara ini telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang secara garis besar dikatakan bahwa setiap penduduk mendapat hak pengajaran yang layak. Dari kenyataan ini, seharusnya dapat mendukung Indonesia menjadi negara yang maju yang dapat menciptakan alat-alat baru dengan inovasi teknologi yang canggih. Namun realitanya, hanya sebagian kecil saja yang dapat melakukan inovasi tersebut. Dimana sebagian kecil tersebut belum memiliki pengaruh yang besar yang dapat mengharumkan nama bangsa. Hal ini mungkin saja menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia ini belum maksimal sehingga belum menghasilkan banyak bibit unggul yang dapat mengharumkan nama bangsa ini.

Share:

Menciptakan Pendidikan Berkualitas untuk Melahirkan SDM Berkualitas

Menciptakan Pendidikan Berkualitas untuk Melahirkan SDM Berkualitas

Hasil gambar untuk pendidikan yang berkualitas
Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang berguna bagi kehidupan manusia, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam dunia pekerjaan. Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Pendidikan berfungsi sebagai sebuah proses dimana seseorang dididik agar dapat memiliki kualitas moral dan keahlian yang nantinya akan berguna bagi kemajuan negara ini. Pendidikan adalah jembatan bagi seseorang untuk dapat memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, pendidikan yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk meningkatkan potensi seseorang agar dapat memasuki dunia pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.
Namun, menurut saya, pendidikan di Indonesia saat ini tidak mencerminkan fungsi dan tujuan dari pendidikan yang sebenarnya. Kualitas pendidikan di negara ini harus lebih ditingkatkan, karena jika ingin menciptakan manusia-manusia yang berkualitas, bukankah pendidikan itu sendiri juga harus berkualitas? Bagaimana bisa pendidikan melahirkan manusia-manusia berkualitas jika pendidikan itu sendiri tidak memiliki kualitas yang memadai?
Sistem pendidikan yang berjalan selama ini seakan tidak memiliki makna. Murid-murid dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang mungkin tidak mereka ketahui apa fungsi dan tujuannya. Setiap hari mereka mempelajari pelajaran-pelajaran yang ada agar dapat mencapai sebuah tujuan, yaitu untuk meraih nilai setinggi-tingginya. Padahal, tujuan dari pendidikan itu adalah untuk mempersiapkan mereka masuk ke dalam dunia kerja. Sebagian besar murid hanya memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi, bukan bagaimana cara untuk meningkatkan potensi, bakat dan minat mereka yang nantinya akan berguna bagi dunia kerja.
Banyak murid-murid yang bingung dan lambat dalam menentukan ingin berprofesi sebagai apa mereka di masa depan. Sebagian besar diantara mereka baru mengenali bakat dan minat mereka saat duduk di bangku SMA. Bahkan lebih parahnya, ada yang baru menentukan profesi yang diinginkannya saat mendekati waktu pendaftaran kuliah. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa SMA lebih banyak dicari dan diminati dibandingkan SMK. Walaupun tidak seluruhnya, banyak siswa-siswi SMA yang belum menemukan jati diri mereka yang sebenarnya. Sedangkan siswa-siswi SMK sudah menemukan jati diri, memiliki tujuan, dan mengetahui ingin menjadi apa mereka di masa depan.
Contoh nyata tentang keterlambatan pola pikir ini terjadi pada diri saya sendiri. Saya baru mengetahui potensi, bakat dan minat saya yang sesungguhnya saat duduk di bangku kelas 2 SMA. Hal ini terjadi karena selama ini saya hanya berpikir bagaimana cara agar dapat meraih nilai yang memuaskan dalam setiap mata pelajaran. Seandainya saja sebelum masuk ke SMA saya telah mengenali potensi, bakat dan minat tersebut, mungkin saya akan lebih memilih SMK daripada SMA. Karena menurut pendapat saya, SMK dapat mengasah potensi tersebut menjadi lebih tajam. Sedangkan, di SMA siswa-siswi dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang tidak seluruhnya berguna bagi masa depan mereka.
Hal yang mengakibatkan keterlambatan pola pikir dalam menentukan profesi yang diinginkan ini terjadi karena sistem pendidikan yang salah. Pendidikan hanya menjejali murid-murid dengan berbagai mata pelajaran yang tidak semuanya berguna bagi mereka di dunia pekerjaan nanti. Sejak kecil, pikiran yang ditanamkan dalam otak mereka hanyalah untuk meraih nilai setinggi-tingginya. Potensi, bakat dan minat yang mereka miliki tidak dapat terasah lebih tajam karena mereka juga harus menguasai berbagai mata pelajaran diluar potensi, bakat dan minat mereka yang sebenarnya.
Untuk mengatasi masalah ini, sistem pendidikan seharusnya dirubah dan dibetulkan. Pendidikan seharusnya tidak boleh memaksakan para murid untuk menguasai berbagai mata pelajaran yang bukan merupakan potensi, bakat dan minat mereka. Akan lebih baik jika jumlah SMK di negara ini ditingkatkan dan menambahkan jenis jurusan yang ada. Sehingga siswa-siswi SMP yang telah menemukan potensi mereka dapat langsung mengasah potensi itu di SMK. Dan jika mereka mau, setelah lulus mereka juga dapat mengasah potensi itu lebih tajam dengan masuk ke perguruan tinggi. Sedangkan siswa-siswi SMP yang belum mengetahui potensinya dapat masuk ke SMA dan mencari tahu lagi apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dan setelah potensi itu telah mereka ketahui, mereka dapat masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan potensi tersebut.
Sejak awal murid seharusnya juga diberi tahu apa tujuan dari pendidikan yang sebenarnya, untuk apa dan berfungsi sebagai apa mata pelajaran yang mereka pelajari, bagaimana penerapan mata pelajaran tersebut dalam kehidupan nyata dan profesi apa yang bisa dijalani dengan menguasai mata pelajaran itu. Dengan adanya hal-hal ini para murid pastinya akan memiliki gambaran dan bayangan tentang profesi seperti apa yang sebenarnya mereka sukai dan mereka inginkan. Dengan ini mereka juga dapat mengasah dan mengembangkan potensi mereka sejak kecil.
Selain sistem pendidikan yang berkualitas, untuk meningkatkan kualitas SDM juga dibutuhkan adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, antara lain:
Pemerintah. Di negara ini, banyak anak-anak kurang mampu yang cerdas dan berbakat, namun, sayangnya sebagian besar diantara mereka tak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Peran pemerintah di dalam dunia pendidikan ini adalah memberikan kesempatan bagi mereka untuk dapat meningkatkan potensi dirinya melalui pendidikan yang layak. Beasiswa dan dana pendidikan seharusnya lebih dioptimalkan untuk mereka yang kurang mampu.
Guru. Kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh kualitas seorang guru. Guru seharusnya menyadari bahwa perannya adalah sebagai seorang guru. Dan guru juga harus menyadari bahwa profesinya sebagai guru bukan semata-mata hanya untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas murid yang dididiknya.
Murid. Sebagai seseorang yang memerlukan pendidikan, murid seharusnya sadar akan kewajibannya untuk belajar. Sebisa mungkin pendidikan itu dimanfaatkan agar dapat berguna bagi masa depan dan untuk meningkatkan kualitas dirinya.
Share:

Kamis, 02 Januari 2020

KILAS BALIK DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA


KILAS BALIK DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Hasil gambar untuk pendidikan di indonesia

Sebagai salah satu wahana pembentuk karakter bangsa, sekolah adalah lokasi penting dimana para "Nation Builders" Indonesia diharapkan dapat berjuang membawa negara bersaing di kancah global. Seiring dengan derasnya tantangan global, tantangan dunia pendidikan pun menjadi semakin besar, hal ini yang mendorong para siswa mendapatkan prestasi terbaik.

Namun, dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan.

Menurut pegiat pendidikan Indonesia, Anies Baswedan keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pangkal derasnya arus urbanisasi. "Yang menjadi persoalan, di Jabodetabek jumlahnya sudah proporsional, tapi jangan kita hanya bicara urban. Justru di luar urban itu kita punya masalah dan itu yang menyebabkan migrasi ke Jakarta," ujar Anies. Secara tidak langsung, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan urbanisasi karena keterbatasan fasilitas di daerah. Ia menilai akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dengan penyediaan fasilitas yang mendukung program tersebut. "Kalau sekolah hanya di ibukota kecamatan, maka yang jauh kan jadi nggak bisa sekolah," tandasnya.

Selain itu, jumlah guru yang sesuai dengan kualifikasi saat ini dinilai masih belum merata di daerah. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Hamid Muhammad saat ini banyak sekolah dasar (SD) di Indonesia kekurangan tenaga guru. Jumlahnya diperkirakan mencapai 112 ribu guru.

Untuk mengatasinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dalam hal distribusi guru di daerah-daerah supaya lebih merata. "Jika manajemen guru bisa ditangani lebih optimal, tidak parsial, maka bisa dipindahkan ke kabupaten atau daerah yang berdekatan," ungkap Hamid.

Kemudian, untuk meningkatkan kualitas para guru, Kemendikbud akan meningkatkan kualifikasi guru melalui beasiswa S-1 bagi guru SD dan SMP. Hamid menjelaskan, jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta sekitar 1.850 ribu guru. Dari jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasi dengan gelar S-1, sedangkan 40 persen lainnya belum memenuhi kualifikasi. Tiap tahunnya, Kemendikbud juga menyiapkan beasiswa untuk 100 ribu calon guru guna menempuh pendidikan S-1 melalui bantuan beasiswa S-1 untuk guru SD dan SMP. Di dunia internasional, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia berada pada peringkat ke-69 dari 127 negara pada 2011.

Di sisi lain, kasus putus sekolah anak – anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi "Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan,  Hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor ekonomi; anak – anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga; dan pernikahan di usia dini,” menurut Sekretaris Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng, Sc di Jakarta. Dalam laporan terbaru Program Pembangunan PBB tahun 2013, Indonesia menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan angka 0,629. Dengan angka itu Indonesia tertinggal dari dua negara tetangga ASEAN yaitu Malaysia (peringkat 64) dan Singapura (18), sedangkan IPM di kawasan Asia Pasifik adalah 0,683.

"Kita harus menyelesaikan permasalahan pendidikan ini, karena kepemilikan atas pengetahuan adalah kunci seseorang mencapai kesejahteraan," menurut  figur pendidikan Indonesia, Anies Baswedan. Dalam perkembangan pendidikan Indonesia, pemerintah telah melaksanakan berbagai kebijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan guna menghadapi persaingan bebas dunia yang akan segera berlaku dengan terwujudnya komunitas ASEAN pada tahun 2015 mendatang.

Untuk meringankan beban serta memperkokoh dasar pendidikan pada siswa Indonesia, Kemdikbud memastikan akan sepenuhnya memberlakukan Kurikulum 2013 mulai tahun 2014, bahkan sudah menyiapkan anggaran untuk mendukung operasional kurikulum tersebut. "Sudah siap dan tahun depan hampir semua (sekolah) bisa melaksanakan Kurikulum 2013," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Musliar Kasim.

Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berfokus pada penguasaan pengetahuan yang kontekstual sesuai daerah dan lingkungan masing-masing.  Kurikulum tersebut menitikberatkan penilaian siswa pada tiga hal: sikap (jujur, santun, disiplin), keterampilan (melalui tugas praktek/ proyek sekolah), dan pengetahuan keilmuan. Pada tingkat dasar seperti SD, kurikulum ini lebih fokus pada pembentukan sikap dan keterampilan  hidup,  sedangkan keilmuannya lebih 'ringan' daripada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Pada tingkat lanjutan seperti SMP dan SMA, porsi penguasaan keilmuan lebih ditingkatkan karena pribadi murid dianggap sudah terbentuk pada tingkat dasar. Menurut Musliar, kurikulum baru akan diterapkan pada siswa SD kelas 1, 2, 4 dan 5; siswa SMP kelas 8 dan 9; serta siswa SMA kelas 10 dan 11. Pemerintah tidak akan mencetak buku bahan ajar. Seperti pelaksanaan pada tahun sebelumnya, Kemendikbud akan mengunggah buku bahan ajar ke dalam situs internet.

Kemendikbud akan menetapkan harga eceran tertinggi atas buku yang ditargetkan akan beredar bebas tersebut. Kurikulum 2013 sendiri sebenarnya sudah dilaksanakan sejak pertengahan tahun 2013 di sejumlah sekolah yang telah diseleksi, meski sempat dikritik karena pelaksanaannya terkesan dipaksakan.

Sebagai lembaga bantuan internasional yang bekerja di sektor pembangunan sosial-ekonomi, USAID Indonesia memberikan penekanan besar pada pengembangan kualitas pendidikan melalui sejumlah program yang berjalan sekarang salah satunya adalah melalui program beasiswa S2 USAID-PRESTASI. Pada tahun ini, USAID -PRESTASI memberikan beasiswa S2 kepada 31 profesional Indonesia. Program ini dibuka untuk umum dan diharapkan dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya masing – masing yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif di lingkungan kerja mereka masing – masing setelah merekakembali ke Tanah Air.

sumber:http://www.prestasi-iief.org/index.php/id/feature/68-kilas-balik-dunia-pendidikan-di-indonesia
Share:

Finlandia Negara Dengan Pendidikan Terbaik

Finlandia: Negara Dengan Pendidikan Terbaik Di Dunia Tanpa UN dan PR, Sedangkan Indonesia?


Bayangkan jika setiap harinya kamu bersekolah hanya 5 jam lamanya, tanpa ada PR menanti dan tidak ada Ujian Nasional (UN) yang kerap menghantui tidur nyenyakmu. Namun, ini semua hanya khayalan belaka jika kita bersekolah di Indonesia. Sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore (hampir sama dengan jam orang kantoran!), PR yang menumpuk, dan Ujian Nasional yang menanti, sungguh murid-murid Indonesia seperti sulit untuk bernapas.
Tapi faktanya dengan sistem pendidikan seperti ini tidak menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pendidikan terbaik. Sebaliknya ada satu negara di dunia ini yang hanya memiliki 5 jam pelajaran/ harinya, tanpa PR dan Ujian Nasional malah mendapat peringkat sebagai negara dengan pendidikan terbaik dan negara tersebut adalah Finlandia.
Mungkin kamu heran kok bisa ya Finlandia dengan hanya 5 jam pelajaran perhari, tanpa PR dan Ujian Nasional bisa meraih predikat negara dengan pendidikan terbaik? Kali ini Selipan akan mengupas habis alasannya.

1. Anak-anak di Finlandia baru bersekolah di usia 7 tahun


Hukum Finlandia mengatur bahwa usia anak-anak bisa memasuki masa sekolah adalah 7 tahun. Terlalu tua? Tidak karena hal ini bukan tanpa alasan. Finlandia lebih mempertimbangkan kesiapan mental anak-anak ketika memasuki dunia sekolah. Sedangkan di Indonesia, seorang ibu yang memiliki anak usia 3 tahun akan heboh mulai mencari pre-school untuk anaknya karena dia takut anaknya nanti akan ketinggalan dibanding yang lain.
Pemikiran memasukkan anak untuk bersekolah lebih dini memang tidak sepenuhnya salah. Tetapi ini menimbulkan kekhawatiran kalau nanti sang anak bosan bersekolah karena dari usia 3 tahun sudah sekolah dan anak seperti dipaksa untuk belajar oleh orangtua.

Berbeda dengan anak-anak Finlandia, meskipun mereka start sekolahnya “telat” tetapi tidak menjadikan mereka ketinggalan dalam pelajaran apapun. Justru mereka sangat kreatif dalam membuat cara belajar sendiri dan mampu menemukan pemecah masalah sendiri yang terbukti dari tes Internasional Programme for International Student Assesment (PISA).


2. 45 menit belajar = 15 menit istirahat


Anak-anak Finlandia tidak diporsir untuk terus-menerus belajar tanpa henti, mereka mendapat waktu istirahat 15 menit setiap 45 menit belajar. Mereka percaya istirahat yang cukup akan mampu menyerap pelajaran lebih baik dan membantu anak lebih fokus.
Sedangkan di Indonesia, anak-anak cenderung “dipaksa” untuk berjam-jam duduk belajar baik itu di sekolah maupun di rumah. Mereka dituntut untuk cepat menguasai pelajaran hasilnya anak-anak ini kehilangan waktu bermain yang sebenarnya sangat penting untuk perkembangan kreativitas mereka.

3. Bersekolah di sekolah negeri di Finlandia bebas biaya



Finlandia tidak mengenal yang namanya “sekolah unggulan” karena semua sekolah di negara tersebut sudah sama rata kualitasnya. Para orangtuapun tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah karena sekolah negeri di Finlandia gratis! Tidak hanya biaya pendidikannya yang gratis bahkan hingga ke makan siang, sarana tranportasi hingga biaya kesehatan pun gratis! Satu hal lagi yang perlu dicatat, sekolah swasta di Finlandia telah diatur secara ketat agar tidak memasang biaya pendidikan yang mahalnya selangit.
Di Indonesia memang sekolah negeri sudah digratiskan tetapi tidak dengan biaya-biaya lainnya seperti transportasi dan makan siang. Ditambah kualitas sekolah di Indonesia belum sama rata sehingga anak-anak harus berjuang ekstra keras untuk bisa masuk ke sekolah unggulan. Ingin memasukkan anak ke sekolah swasta? Bersiaplah untuk biaya yang mahalnya selangit.

4. Kualitas guru sangat diperhatikan


teacher-finland

Meraih gelar Master dan 10 besar lulusan terbaik dari universitas terbaik itulah syarat menjadi guru di Finlandia. Imbalannya? Gaji yang tinggi dan beragam fasilitas penunjang lainnya menanti. Pemerintah Finlandia sadar bahwa kesejahteraan guru sama pentingnya dengan keberhasilan seorang anak sehingga mereka sangat memperhatikan hal ini. Murid-murid di sekolah pun mendapat perhatian yang sangat cukup di kelasnya karena 1 guru hanya untuk 12 siswa saja.
Berbanding terbalik dengan Finlandia, kesejahteraan guru Indonesia sangat memprihatinkan. Tidak semua guru mendapat gaji yang layak dan fasilitas pendukung. Di kelas pun lebih dari 20 murid harus diperhatikan oleh 1 guru saja. Semoga kedepannya pemerintah harus lebih sadar akan fakta yang satu ini dan mulai serius memperhatikan kesejahteraan guru.

5. Bye, Ujian Nasional!



Karena guru-guru di Finlandia memiliki standar yang sangat tinggi maka evaluasi pembelajaran siswa sepenuhnya ada di tangan guru mereka. Karena pemerintah Finlandia menganggap, guru-lah yang tahu 100% kemampuan seorang siswa. Hal ini sangat menguntungkan semua siswa karena pada dasarnya tidak semua siswa memiliki potensi yang sama ada yang berbakat di bidang ilmu alam, ilmu sosial dan seni. Karena sistem pendidikan yang fleksibel inilah yang membuat Finlandia meraih peringkat pendidikan terbaik di dunia.

Sistem pendidikan Indonesia masih menganut pentingnya Ujian Nasional. Pemerintah masih berpikir satu-satu cara untuk mengukur keberhasilan siswa adalah dengan Ujian Nasional (UN). Padahal dari sekian banyaknya mata pelajaran yang ada yang dujikan dalam Ujian Nasional hanyalah mungkin 1/4 nya dan tidak semua murid memiliki potensi keunggulan yang sama.

6. Sekolah cuma 4-5 jam/ hari



Siswa-siswa tingkat SD di Finlandia hanya menghabiskan waktu 4-5 jam/ hari di sekolah! Mereka tidak menghabiskan setengah hari di sekolah untuk belajar. Sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA jam sekolah mereka sama dengan anak kuliahan jadi mereka hanya datang pada jam mata pelajaran yang mereka pilih saja. Dengan jam sekolah yang pendek ini justru membuat tingkat efektivitas dan produktivitas siswa semakin tinggi.
Berbeda jauh dengan di Indonesia, siswa-siswa mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA seolah memiliki jumlah jam pelajaran yang sama. Mereka bisa bersekolah dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore! Jika dijumlahkan jam sekolah siswa sama dengan jam kerja karyawan. Dengan jam sekolah yang lama malah membuat siswa cepat lelah dan cenderung sulit fokus.

7. Tidak ada sistem ranking di sekolah

RIAN_archive_398877_Festivities_in_Vladivostok_to_celebrate_International_Children's_Day

Sekolah-sekolah di Finlandia tidak mengenal adanya sistem ranking. Mereka ingin semua siswa dianggap rata, tidak ada siswa yang dicap “pintar” atau “bodoh”. Siswa pun  tidak hanya berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya saja, mereka juga bertemu dengan teman-teman kelas lainnya di kelas campuran. Sehingga kesenjangan pendidikan di Finlandia sangatlah kecil.
Dan kembali lagi di Indonesia mendapat ranking 1, 2 dan 3 sangatlah prestisius. Bahkan “tinggi-tinggian” ranking seolah menjadi hal yang saling dipamerkan para orangtua masing-masing.
Nah, berkaca dari fakta-fakta yang di atas semoga pemerintah Indonesia bisa mempelajari dan mulai menerapkan sistem pendidikan yang lebih “manusiawi” baik untuk siswa maupun gurunya sendiri. Maju pendidikan Indonesia!
Share:

Subcribe Us

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support